Foto Ilustrasi Google
LENSAPEWARTA.COM, JEPRET - Filosofi
Jawa yang dinilai sebagai bahasa kuno, ndeso dan ketinggalan jaman. Padahal,
jika di telaah lagi filosofi jawa warisan leluhur tersebut akan berlaku terus
sepanjang hidup.
Warisan
budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan dapat menambah wawasan kebijaksanaan
serta mengajarkan hidup kita agar senantiasa “Eling lan Waspodo" artinya
ingat dan waspada.
Oleh
sebab itu, saya mencoba melestarikan sekaligus sebagai wawasan anda tentang
budaya jawa khususnya dalam hal bahasa yang lebih kepada filosofi jawa agar
kita tahu betapa kayanya indonesia ini akan budaya.
Berikut
kumpulan falsafah orang jawa tentang kehidupan beserta arti penjelasannya erat
dengan pedoman hidup masyarakat Jawa :
“Sura
Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti"
Artinya
segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan
sikap bijak, lembut hati dan sabar.
“Memayu
Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara"
Maksunya Manusia hidup di dunia harus mengusahakan
keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara
murka, serakah dan tamak).
“Urip
Iku Urup" (Hidup itu Nyala)
Maksunya
Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin
besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun
manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang
meresahkan masyarakat.
“Aja
Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman"
Maksunya
Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut-
kejut, Jangan mudah kolokan atau manja.
“Datan
Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan"
Maksunya
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala
kehilangan sesuatu.
“Ngluruk
Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa
Bandha"
Maksunya
Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan atau
mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau
keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan.
“Aja
Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo"
Maksunya
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir
mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.
“Aja
Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka"
Maksunya
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang
agar tidak celaka.
“Aja
Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman"
Maksunya
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan,
kebendaan dan kepuasan duniawi.
“Nerimo
ing pandum"
Makna
dari kata adalah mengandung Arti yang mendalam menunjukan pada sikap Kejujuran,
keiklasan, ringan dalam bekerja dan ketidakinginan untuk korupsi.
Inti
filosofi ini adalah Orang harus iklas menerima hasil dari usaha yang sudah dia
kerjakan.
“Alon-alon
waton klakon"
Maksunya
Filosofi ini sebenarnya berisikan pesan tentang safety/keselamatan. Padahal
kandungan maknanya sangat dalam. Filosofi ini mengisyaratkan tentang
kehati-hatian, waspada, istiqomah, keuletan, dan yang jelas tentang safety.
“Aja
Adigang, Adigung, Adiguno"
Maksudnya
adalah Jaga kelakuan / tatakrama, jangan sombong dengan kekuatan, kedudukan,
ataupun latarbelakangmu.
“Mangan
ora mangan sing penting ngumpul"
Maksunya
Makan tidak makan yang terpenting adalah bisa berkumpul (kebersamaan).
Filosofi
ini merupakan sebuah peribahasa. Kalimat peribahasa tidaklah tepat jika
diartikan secara aktual.
Filosofi
ini sangatlah penting bagi kehidupan berdemokrasi. Kalau bangsa kita ini
mendasarkan demokrasi dengan falsafah diatas pastinya negara kita akan aman,
tentram dan sejahtera.
Filsafah
“Mangan ora mangan” melambangkan eforia demokrasi, yang mungkin satu pihak
mendapatkan sesuatu (kekuasaan) sedangkan pihak yang lain tidak. Yang tidak
dapat apa-apa tetap legowo atau menerima dengan lapang dada.
Dan
kata dari “Sing penting ngumpul” melambangkan berpegang teguh pada persatuan,
kebersamaan, yang artinya bersatu untuk tujuan bersama.
Filosofi
dari kalimat peribahasa “Mangan ora mangan sing penting kumpul” adalah filosofi
yang cocok yang dapat mendasari kehidupan demokrasi bangsa Indonesia agar
tujuan bangsa ini terwujud.
“Wong
jowo iki gampang di tekuk – tekuk"
Maksud
dari Filosofi ini juga merupakan ungkapan peribahasa yang dalam bahasa
Indonesia adalah ‘Orang Jawa itu mudah ditekuk-tekuk’.
Ungkapan
ini menunjukan orang jawa itu fleksibel dalam kehidupan. Kemudahan bergaul dan
kemampuan hidup di level manapun baik kaya, miskin, pejabat atau pesuruh sekali
pun. Orang yang memegang filosofi ini akan selalu giat dalam bekerja dan selalu
ulet dalam menggapai cita-citanya.
“Saiki
jaman edan yen ora edan ora komanan, sing bejo sing eling lan waspodo"
Maksudnya
adalah sekarang zaman edan (gila), yang nggak endan nggak bakal kebagian, Hanya
orang yang ingat kepada Allah dan waspada yang beruntung.
Disini
saja juga tidak cukup dan waspada terhadap duri-duri kehidupan yang setiap saat
bisa datang dan menghujam kehidupan, sehingga bisa mengakibatkan musibah yang
berkepanjangan
Itulah
beberapa pandangan hidup, pedoman dan prinsip yang telah diterapkan sejak
dahulu yang biasa menjadi nasehat orang jawa. Filosofi jawa meskipun kini
semakin luntur dimakan zaman, namun akan selalu tertancap di jiwa orang jawa.
(sumber
: bukubiruku.com)
