Pers nggak ada matinya
Pers nggak mungkin mati
Pers nggak ada matinya
Pers nggak mungkin dibikin mati
Itulah lagu Iwan Fals dalam rangka reuni Institut Ilmu
Sosial dan Politik (IISIP) angkatan 1970-2000 yang kemarin berlangsung dari
pagi hingga malam hari. Bagi Anda yang belum tahu, Iwan dulu sempat berkuliah
di perguruan tinggi swasta yang beralamat di Lenteng Agung, Jakarta Selatan
ini. Saat itu namanya masih Sekolah Tinggi Publisistik (STP).
IISIP berdiri pada 5 Desember 1953 dengan nama Perguruan
Tinggi Djurnalistik (PTD). Pendiri perguruan tinggi ini adalah A.M. Hoeta Soehoet,
yakni seorang pimpinan di Perhimpunan Mahasiswa Akademi Wartawan. Pada 4 Mei
1960 nama perguruan diubah menjadi Perguruan Tinggi Publisistik (PTP).
Ilmu-ilmu yang dipelajari diperguruan tinggi ini pun berkembang, bukan hanya
mempelajari persuratkabaran dan jurnalistik saja, tetapi seluruh ilmu
komunikasi. Barulah pada 27 Juli 1985, sekolah yang banyak mencetak
jurnalis-jurnalis handal ini menjadi institut dengan nama IISIP.
[caption caption="Iwan menyanyikan lagu "Pers
Nggak Ada Matinya" dalam rangka reuni akbar IISIP angkatan
1970-2000"][/caption]
Iwan sempat keluar dan masuk kembali ke kampus yang dikenal
dengan sebutan ‘Kampus Tercinta’. Bahkan ia sempat melatih karate di kampusnya.
Menurut teman seangkatannya, Raja Parlindungan Pane, Iwan mengumpulkan
teman-teman seangkatannya yang mau belajar karate. Dari hanya perkumpulan
biasa, kelompok karate ini menjadi klub kampus, dimana Iwan yang menjadi
pendirinya. Tentang karate, musisi legendaris ini pernah meraih gelar Juara II
Karate Tingkat Nasional dan Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989 dan sempat
masuk pelatnas.
Iwan pertama kali masuk kampus dan tercatat sebagai
mahasiswa STP pada 1980. Ia cuma berkuliah selama enam bulan dan keluar. Pada
1981, ia kembali mendaftarkan diri menjadi mahasiswa.
“Meski keluar masuk, tapi nggak jadi sarjana juga,” ujar
Iwan di atas panggung di hadapan ratusan alumni IISIP angkatan 1970 sampai
2000. "Padahal sudah diplonco tiga kali. Ibu saya masih tanya kapan mau
kuliah lagi".
Selain karate, kesibukan menggarap album, dan tur promo
bersama Musica Studio, membuat Iwan akhirnya tidak masuk-masuk kuliah.
Setidaknya ini terjadi pada 1981, ketika album Sarjana Muda dirilis dan meledak
di pasaran. Begitu kesibukan promosi album Sarjana Muda, Iwan mendaftar lagi ke
'kampus tercinta'. Namun, lagi-lagi ia tak mampu mengatur waktu, terlebih lagi
ketika menggarap album berikutnya: Opini.
Terakhir, Iwan mendaftar pada 1986. Kala itu nama kampusnya
bukan lagi STP, tetapi sudah berganti menjadi IISIP. Meski sudah terkenal, Iwan
tetap rendah hati. Pria bernama asli Virgiawan Listanto ini tetap ikut
aktivitas yang digelar teman-temannya sekampus. Bahkan, ia tak sungkan ikut
kompetisi sepakbola antarkampus yang diselenggarakan di Kuningan, Jakarta dan
juga di Bogor.
Bagi Iwan, dunia kewartawanan bukanlah hal baru. Selain
pernah merasakan kehidupan kampus jurnalistik dan mengenal sejumlah wartawan
senior, ia juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga. Namun,
malam itu ia menyampaikan kegusaran pers Indonesia kini, dimana sudah menjadi
“anjing penjaga” bagi pemilik media dan politik.
Dalam perjalanan karirnya, hubungan Iwan dan wartawan juga
sempat mengalami pasang surut. Ia pernah diboikot sejumlah wartawan. Salah
satunya terjadi pada paruh Agustus 2012. Ketika itu kalangan wartawan baik
media cetak dan portal online melakukan boikot atas konser Iwan Fals yang
dilaksanakan, Senin (6/8/2012) di Lapangan Yon Zipur Helvetia, Medan dalam
event bertajuk Nge-TOP Bareng Iwan Fals dan kawan-kawan.
Sebenarnya saat itu kesalahan bukan langsung pada Iwan,
tetapi akibat ketidakprofesionalan event organizer (EO) acara tersebut, yakni
Hans Production. Mulai dari harian Kompas, Tribun Medan, Tabloid Aplaus,
Topkota, Orbit, Sumut Pos dan media lainya, termasuk portal KapanLagi.com
memboikot konser. Untunglah kejadian tersebut tidak berimbas pada konser-konser
Iwan selanjutnya, dimana selalu diliput oleh rekan-rekan wartawan.
Kemarin malam (Minggu, 29/08/2015), Iwan kembali berkumpul
bersama teman-teman wartawan di Space Food & Entertainment, Dim Sum
Festival, Kemang, Jakarta Selatan. Di acara reuni yang juga menghadirkan
pentolan God Bless, yakni Ian Antono dan Achmad Albar ini, Iwan menyanyikan
beberapa lagu hitsnya: Kesaksian, Omar Bakrie, dan Sore Tugu Pancoran.
Sementara lagu Pers Nggak Ada Matinya merupakan lagu yang khusus dilantunkan di
reuni IISIP.
Penciptaan lagu Pers Nggak Ada Matinya cukup menarik.
Sebegaimana penulis kutip dari akun Facebook @CocomeoCacamarica, beberapa hari
sebelum reuni, para alumi IISIP yang notabene teman sekampus Iwan mengunjungi
rumah sang legenda di Lewinanggung, Cimanggis, Jawa Barat. Mereka ngobrol di
halaman rumah yang asri dan sejuk itu.
Seorang teman Iwan, yakni Raja Pane, meminta Iwan membuatkan
lagu untuk tema reuni. "Wan, elu harus nyanyi tema kita, Pers Nggak Ada
Matinya. Saatnya kita berbuat agar Pers tidak terbunuh dimakan zaman".
Iwan kemudian mengambil dua gitar miliknya. Sambil memegang
gitar, juga mencari lirik. Saat itu juga ada teman Iwan, yakni Amazon
Dalimunthe yang membantu menuliskan lirik di sebuah kertas dengan penanya.
Lirik pun tercipta. Selain dicatat dalam selembar kertas,
Iwan sempat mencatatkan lirik di handphonenya. Sementara irama yang sebelumnya
dilantunkan lewat gitar sempat direkam oleh Azmi Alqamar, salah seorang rekan
Iwan juga yang kuliah di IISIP.
Lagu mengenai dunia kewartawanan sebenarnya bukan baru kali
itu saja diciptakan Iwan. Ia pernah membuat lagu Matinya Seorang Penyaksi. Lagu
ini merupakan lagu yang didedikasikan khusus untuk almarhum wartawan Udin atau
Fuad Muhammad Syafruddin dan para wartawan di seluruh Indonesia.
Matinya seorang wartawan bukan matinya kebenaran
Tercatat dengan kata sakti, menjadi benih yang murni
Hari ini kisahmu abadi berbaringlah kawan
Berbaringlah dengan tenang...
