LENSAPEWARTA.COM, TEGAL– Sudah sangat lama, ribuan warga melihat dan menaruh tanya mengapa ada satu makam di tanah tanggul Bendung Pesayangan Talang Kabupaten Tegal. Makam jenasah siapakah dan dimanakah keluarganya gerangan? Sampai sekarang, semua warga belum mendapati jawaban pastinya.
Namun kini teka-tekinya, terkuak lugas dan terang. Ternyata masih ada keluarga besar makam tersebut dan masih menziarahinya. Identintas almarhum dalam makam itupun diketahui dengan jelas.
Keluarga makam itu, yakni Wedana Adiwerna pertama Kabupaten Tegal bernama Ismail Harsokusumo – periyayi keturunan Bupati Batang yang masih sedarah dari Bupati Tuban masa lalu. Sedangkan nama almarhum di makam itu Slamet bin Ismail Hadikusumo – anak kedua dari sembilan bersaudara Wedana Adiwerna.
Almarhum Slamet Hadikusumo adalah korban dari pembantaian gerakan pemberontakan Kutil yang dikenal dengan nama Peristiwa Tiga Daerah. Ia bersama dua temannya asal Yogyakarta dibantai sampai tewas. Begitu mereka bertiga tak bernyawa, dibuang ke satu lubang tanah dipinggir Kaligung Bendung Pesayangan.
Kini keluarga besar mantan Wedana Adiwerna tinggal di Ibukota Jakarta. Salah satunya M. Santoso (82) — adik almarhum Slamet Hadikusumo. M. Santoso melalui putranya Adi Haryadi (46) mengatakan, keluarga besarnya masih ziarah ke makam almarhum Slamet Hadikusumo. “Ziarah terakhir kali pada Desember 2016 tahun lalu,” katanya.
Adi Haryadi berkisah: Kala peristiwa Tiga Daerah silam pada tahun 1948 silam, keluarga besarnya tinggal di Adiwerna — sekarang kantor PMI Kabupaten Tegal. “Keluarga kami termasuk beruntung. Bisa lolos dan kabur dengan kendaraan delman menuju Puwokerto,” katanya. Cuma Almarhum Slamet Hadikusumo lah yang apes.
Saat itu dari Yogyakarta, almarhum bersama dua orang rekannya, baru sampai di wilayah Kecamatan Talang. Setibanya, mereka ditangkap diinterogasi. Dan karena mereka bungkam, gerombolan pemberontak membantainya sampai tewas, lalu dibuang dalam satu lubang tanah Kaligung. Mereka bertiga benar-benar tak mengerti di 3 daerah (Tegal, Brebes, dan Pemalang) tengah terjadi pergolakan dan pemberontakan berdarah.
Lewat peristiwa tragis itulah, teka-teki keberadaan satu makam di Bendung Pesayangan Kaligung bisa terkuak. Ternyata keberadaan makam itu, korban dari tragedi Peritistiwa Tiga Daerah. Dimana didalam satu makam itu bersemayam 3 jenasah — Slamet Hadikusumo dan 2 teman dari Yogyakarta. Mereka adalah mahasiswa dari perguruan tinggi di Kota Gudeg.
Letak Desa Pesayangan Kecamatan Talang di Kabupaten Tegal. Asal muasal berdirinya desa itu belum tercatat jelas dalam catatan sejarah perpusatakan Pemerintah Kabupaten Tegal.
Menurut penduduk setempat, kisah tentang Desa Pesayangan tidak terlepas dari seorang tokoh besar yang amat sohor ke waliannya. Beliau adalah Al Faqih pendatang dari negeri Persia Timur Tengah – seorang agamawan sekaligus pedagang lintas negara. Konon kala datang ke Indonesia silam, beliau dalam mengarungi lautan tak menggunakan kapal, namun dengan menunggangi ikan Cucut besar.
Kedatangan di Tegal, Al Faqih berdagang dari desa ke desa. Sampai pada akhirnya, beliau memilih tempat singgah di Desa Pesayangan hingga akhir hayatnya. Makamnya di Dukuh Pengempon dan nama harumnya diabadikan untuk nama masid yaitu Masjid Al Faqih.
“Masjid itu juga dikenal sebagai Masjid Tukul. Karena kala dibangun dahulu begitu cepat selesai. Sehingga orang-orang yang melihatnya terkagum heran, lalu mencapnya sebagai masjid tukul atau ada dengan sendirinya,” kata Aji penduduk setempat.
Desa Pesayangan juga dikenal dengan pengrajin emas rumahannya. Dulu desa ini sempat sangat sohor paling makmur dari 287 desa di Kabupaten Tegal. Tetapi soal kemakmuran ini pun tidak terlepas dari sosok Al Faqih. Terutama terkait keistimewaan satu sumur yang ada di Masjid Al Faqih. “Penduduk setempat mempercayai didalam sumur itu ada emasnya,” lanjut Aji penuh percaya.(RED/CN)
