LENSAPEWARTA.COM,
TEGAL -Penutupan Lokalisasi terbesar pernah dilakukan di wilayah Kota Surabaya
Jawa Timur yang dilakukan oleh kekuatan seorang wanita yang menjabat sebagai
walikota yang memang gigih memperjuangkan harkat dan martabat wanita.
Hal ini
diikuti pula oleh Wakil Bupati Tegal . Lokalisasi Karanggondang
yang terletak di Dukuh Karangmulya Kesuben kecamatan Lebaksiu kabupaten Tegal
resmi ditutup dipimpin langsung wakil bupati dengan tim gabungan .
Menurut Wakil Bupati "praktek prostisusi Karanggondang yang sudah beroperasi selama 10 tahun sebenarnya praktek ilegal, serta sesuai kebijakan pemerintah daerah kabupaten Tegal bebas dari praktek lokalisasi prostisusi"ujarnya.
Sementara dalam
penutupan tersebut setiap PSK akan diberikan uang kompensasi sebesar 1.8 juta
setiap orangnya dan bagi PSK yang bukan warga kab/kota Tegal dipersilahkan
untuk berkemas dan meninggalkan lokasi lokalisasi.
Namun menurut Kepala Dinas
Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) kabupaten Tegal
menjelaskan" bahwa penutupan lokasi tersebut sudah melalui proses yang
panjang dan bukan secara mendadak, dan mereka sudah diberikan pengarahan,"
jelasnya.(seperti dilansir (www.harianonlinekabarindonesia // 16 juni 2015 //
wakil bupati tutup lokalisasi)
Namun keberadaan ini
tak berlangsung lama, penutupan bukan menghilangkan tetapimenimbulkan polemic yang
baru, memunculkan polemic baru tempat hiburan sejenis di berbagai wilayah
kabupaten Tegal, sudut sudut desa mulai Nampak gemerlap lampu kerlap kerlip
meriah dengan alunan music goyang lambada.
Inilah yang harus
dilakukan pemerintah setempat, pengawasan ekstra menjadi hal yang paling utama
agar tak lagi muncul dan tumbuh menjamur dilain tempat usai satu tempat di
tutup, seperti halnya sama dengan penutupan komplek Peleman di Pantura yang
masih masuk dalam perbatasan Kabupaten Tegal.
Satu titik Komplek
Esek esek Peleman di tutup, muncul berbagai titik lokasi sebagai pencaharian
nafkah yang tak terpenuhi, iming iming perbaikan hidup seakan hanya sementara
yang ditawarkan pemerintah bagi para penebar madu.
Kedua lokasi komplek
esek esek seharusnya menjadi pembelajaran, ratusan penjaja nafsu bukan
menghilang tetapi justru menyebar dan tidak semudah membalikan telapak tangan
mengantikan profesi serta merubah pola pikir mereka, yang pada akhirnya
,menjadi Pe Er bagi pemerintah setempat....Foto Ilustrasi Google(RED/CN)
