LENSAPEWARTA.COM – (Bang Jepret) Dia mengaku bernama Linda (nama samaran). Kulitnya kuning mulus. Rambutnya ikal sebahu. Wajahnya tak terlalu cantik, namun tetap menarik. Di dahinya, kerut ketuaan samar terlihat. Itu menandakan ia tak muda lagi. Linda berumur 35 tahun, Stw bahasa gaulnya.
Perempuan seumuran Linda, tentu kalah menarik dibandingkan pramuria lain yang berumur di bawah 30 tahun. Apalagi untuk terjun ke dunia prostitusi, sulit bersaing dengan yang muda-muda. Kondisi Peleman yang sepi, memperparah keadaannya. Ia jarang mendapat tamu.
”Di sini sepi, jarang ada yang datang. Biasanya yang datang sudah punya langganan. Saya hanya cukup untuk makan,sedangkan setoran tetap jalan” tuturnya setengah berbisik.
Linda termasuk yang lebih terbuka. Banyak PSK lain yang enggan berbicara, dirinya hanya bisa berkata, mereka para hidung belang pada dasarnya butuh kami, kehidupan yang penat sejak pagi hingga malam, belum lagi permasalahan yang muncul dalam rumah tangga terkadang menjadi alasan untuk mencari kehangatan tersendiri , paparnya sedih sambil sesekali meneguk minuman Bir Hitam..
Peleman..di sudut pantura sejak dahulu sudah marak dengan hinggar bingar malam penuh madu, bahkan tak kenal batas usia, kini pemerintah setempat telah menutup lokalisasi tersebut, dengan memberikan kompensasi bagi para penghuni untuk beralih profesi.
Namun hal ini tak menyurutkan para pelaku seks untuk berubah, bahkan yang terjadi semakin banyak bermunculan dengan pola permaianan yang lebih canggih manfaatkan teknologi.
“Seperti pepatah mas, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Mati Satu Tumbuh seribu…jadi jangan heran mas, ketika lokasi peleman di tutup mungkin akan muncul peleman peleman lain,” jelas linda tertunduk malu tampak sedih
Saat ku, tiba tiba suara parau Linda diikuti tetes air mata terdengar lirih, “Terus terang mas kami disini hanya menghabiskan mimpi yang tak pernah terbeli, padahal yang mencumbu kami, dari yang mengaku pengamen, pengusaha hingga pejabat pun ada, tapi semua hanya menikmati tubuh ini dilapisi nafsu tanpa tahu banyak mimpi yang belum terbeli,” isaknya
Entah berapa banyak lagi linda ada dipantura ini dengan berbagai kisah, berbagai duka berbagi dalam keheningan malam di jalur pantura, yang jelas mereka butuh pendampingan hingga mampu menjalani perubahan profesi, dan bukan di hanya sekali diberikan pembinaan selebihnya terserah anda..
Mereka manusia dan mereka juga rakyat yang butuh pembinaan bukan hinaan, dan menjadi penjaja seks bukan karena kemauan mereka tetapi karena tuntutan hidup yang terus mengejar seperti kita mengejar mimpi, Kini ku berharap pemerintah akan memberikan yang terbaik hingga mereka mampu berdiri sendiri, memiliki sandang pangan normalnya berkehidupan, bukan dengan mejual madu madu kasih.
