Primadona Wisata Religi di Brebes



BREBES - Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH usai mengkuti Kirab Kelambu Makam Syekh Junaedi di Desa Randusanga Wetan, Kecamatan Brebes. Selasa (20/11). Secara tidak langsung Pokdarwis akan membantu masyarakat dari segi perekonomian, dengan begitu kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Harapannya wisata religi ini, juga dapat mendorong sektor pariwisata melalui seni dan budaya yang ada di Kabupaten Brebes.

Terkait hal tersebut Bupati Brebes juga mengucapkan terima kasih serta apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta kirab. “Kirab Ganti Kelambu yang kita laksanakan dalam rangka Haul Syekh Junaedi Al-Baghdadi yang ke 274 merupakan upaya mempertahankan tradisi dan budaya, khususnya tradisi pesisir pantura,” pungkasnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes Wijanarto menyampaikan, kirab ini termasuk festival budaya yang menarik. “Selain merayakan Haul Syekh Junaedi, tradisi ini dapat mengikatkan masyarakat untuk saling remojong gambaran dari kegotongroyongan dan keanekaragaman budaya Kabupaten Brebes," ucap Wijanarto.

“Tujuannya untuk menghikmati proses sejarah daerah di Indonesia yang kompleks dan tidak linier, dan banyak mengandung nilai-nilai keislaman,” tambahnya.

Kepala Desa Randusanga Wetan Amir Mahmud juga mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Brebes yang telah membantu pelaksaaan kirab. “Semoga apa yang kita lakukan dapat terus menghidupkan tradisi di Desa Randusanga,” kata Amir.

Menurut cerita Juru Kunci Makam Syekh Junaedi Syakhur Romli, Syekh Junaedi merupakan salah satu ulama penyebar islam di wilayah Kabupaten Brebes, Khususnya di wilayah pesisir. Sosok beliau diperkirakan hidup satu masa dengan Walisongo, dan makamnya berada di Desa Randusanga Wetan Kecamatan Brebes.

Asal usul Desa Randusanga beriringan dengan keberadaan Makam Syekh Junaedi. Syekh Junaedi dipercayai berasal dari Baghdad. Kedatangan beliau ke Randusanga konon setelah wilayah itu ditinggalkan Walisongo ke Cirebon. Pernah singgahnya Walisongo itu yang menjadi asal usul nama Randusanga.

Randusanga itu berasal dari randu dari kata randa, artinya bekas. Sedangakan sanga berarti sembilan. Jadi Randusanga berarti bekas musyawarah Walisanga. Randusanga disebut bekas musyawarah Walisanga, sebab saat Syekh Junaedi datang, Walisanga sudah berangkat, tinggal bekasnya saja.
Seiring perkembangnnya Desa Randusanga terbagi menjadi dua, yakni Desa Randusanga Kulon yang berarti Randusanga sebelah barat dan Desa Randusanga Wetan yang berarti Randusanga sebelah timur.(red/CN/sumber dinkominfotik brebes)